Simplenya, karena virus COVID-19 semakin mewabah di banyak daerah di Indonesia. Virus ini punya kemampuan untuk menyebar dan menular dengan cepat ke orang lain.

Orang yang sudah terpapar virus COVID-19 walaupun tidak mengalami gejala apapun dan kelihatan sehat-sehat saja bisa menularkan virus tersebut ke orang lain yang berkontak langsung dengan yang bersangkutan.

Di rumah bersama keluarga

Ini lah mengapa untuk memutus mata rantai dan mencegah penularan yang semakin masif, kita disarankan untuk di rumah saja untuk sementara waktu, sesuai anjuran dari pemerintah kita.

Di negara mana pun di dunia yang sudah terpapar virus ini, tren jumlah pasien positif COVID-19 selalu tertambah setiap harinya, jumlah kasus positif per hari-nya pun hampir selalu meningkat dibandingkan hari sebelumnya.


Coba bayangkan apa yang akan terjadi misalkan ada ribuan orang yang terpapar virus COVID-19 dalam waktu yang bersamaan di satu daerah yang sama.

Hal ini akan berujung mereka semua akan berbondong-bondong ke rumah sakit untuk memeriksakan diri dan pihak rumah sakit pastinya akan kewalahan dalam melayani mereka.

Kalau rumah sakit dan tenaga medis sudah kewalahan, pelayanan yang diberikan juga tidak akan bisa maksimal. Akan terjadi makin banyak kasus pasien positif COVID-19 yang kondisinya memburuk dan akhirnya meninggal dunia.

Jangan sampai sistem pelayan medis di daerah kita menjadi kolaps hanya karena kita bersikap acuh & tak menghiraukan himbauan pemerintah.


Berkaca Pada Kasus di Korea Selatan

Pada 30 kasus positif COVID-19 pertamanya, Korea Selatan pada awalnya mampu mengatasi dan menekan laju penyebaran virus COVID-19 dengan menghimbau warganya untuk tetap berada di rumah kecuali untuk kondisi darurat.

Namun semuanya berubah drastis sejak munculnya kasus pasien ke 31. Orang ini menghiraukan anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah.

Awalnya, orang ini yang kebetulan seorang wanita,terlibat sebuah kecelakaan kecil. Kemudian dia dirawat di sebuah rumah sakit. Saat berada di rumah sakit, pasien ini keluar untuk menghadiri acara keagamaan di tempat ibadah setempat di Daegu sebanyak 2x di dua hari yang berbeda.

Sebelum menghadiri acara keagamaan untuk yang kedua kalinya, dokter rumah sakit sudah menganjurkan wanita ini untuk dites COVID-19 karena yang bersangkutan mengalami demam tinggi namun yang bersangkutan menolaknya.

Dia kemudian malah menghadiri acara jamuan makan siang di sebuah hotel.

Beberapa hari kemudian, wanita ini baru mau untuk dites COVID-19, selang beberapa hari hasilnya pun keluar dan ternyata wanita ini positif COVID-19 dan dia menjadi pasien positif COVID-19 ke 31 di Korea Selatan.

Kejadian selanjutnya mencengangkan dunia, Pasien 31 inilah yang menurut Korea Selatan yang menyebabkan melonjaknya kasus pasien positif COVID-19.

Total Pasien 31 ini berkontribusi terhadap 80% dari total seluruh penyebaran virus COVID-19 di seluruh Korea Selatan! Kurang lebih sekitar 5.016 orang menjadi positif COVID-19 akibat ulah Pasien 31.

Riwayat perjalanan Pasien 31 Korea Selatan
Riwayat perjalanan Pasien 31 Korea Selatan (Reuters)

Berita mengenai Pasien 31 di Korea Selatan ini bisa dibaca pada tautan berikut:

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian di Korea Selatan?

  • Janganlah berkelakuan seperti Pasien 31
  • Penyebaran virus menjadi sangat masif di tempat yang sangat ramai, baiknya ikuti anjuran pemerintah untuk #dirumahaja

Dengan kita berada di rumah, kita membantu mencegah meluasnya penyebaran virus ini. Selain itu, kita juga melindungi keluarga kita, termasuk orang tua kita yang memang paling rentan jika sampai terpapar. Karena tingkat kematian pasien COVID-19 terbesar ada pada retang usia di atas 50 tahun.

Ayo jaga keluarga kita, saudara kita, teman kita, tetangga kita dan bangsa kita.

Ayo di rumah aja.